Sedekah adalah harta kita yang sebenarnya Sedekah Sekarang

Cerita Kabur dari Pondok - Part 2

Cerita lanjutan part 2 dari cerita kabur dari pondok as sebelumnya
Cerita Kabur dari Pondok - Part 2

Krik.. krik.. krik..

Suara jangkrik dan kodok di sawah saling bersahutan, malam itu begitu dingin

Selesainya kami makan-makan dirumah Nenek  membuat kami mengantuk, meski bergelas-gelas kopi kami minum, namun rasa lelah dan mengantuk di mata ini tidak bisa kami bohongi

"Duh, ngantuk banget nih asli." 

"Rasanya mau langsung tidur aja kalo udah nyampe dikamar." Ucapku membuka obrolan kami di tengah sawah yang sedang dalam perjalanan untuk kembali lagi ke pondok

Tak ada lagi pilihan jalan selain lewat sawah

Tak mungkin rasanya kami tanpa dosa melewati jalan utama begitu saja, khawatir ada seseorang yang lewat mengenali kami bertiga

Meski gelap dan becek, jalan sawah ini harus kami tempuh hingga sampai gerbang belakang pesantren

Karena waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi, kami khawatir jika jalan depan sudah ada orang yang bangun dan pergi ke masjid untuk shalat malam, karena jarak antara gerbang depan dan beranda masjid tidak jauh

"Yakin ente raj kita pulang lewat sini? Jam segini ane takut ada yang kontrol, biasanya gerbang belakang ada yang jaga." Jelas Nafri khawatir sambil berbisik

Belum saja ku menjawab pertanyaan Nafri, sesampainya kami di gerbang belakang pondok, benar saja tebakan Nafri

Kilauan senter mengayun-ayun keatas pepohonan, segera kami bertiga menyisi kedalam semak-semak

"Tuh kan bener kata ane, ada yang jaga." Jelas lagi Nafri membenarkan tebakannya

"Ya, itu khofir (ronda malam dari santri) pasti ri.." Balasku coba untuk menenangkan Nafri

Karena aku benar-benar khawatir, jika yang sedang berkeliling-keliling adalah bagian keamanan atau salah satu ustadz yang sedang ronda malam

"Wah, gawat nih. Kayanya kepaksa kita harus puter balik lewat jalan depan, ga beres nih, kayanya dia duduk di sana" Tanyaku lagi, memperhatikan seseorang yang sedang mundar mandir tak jauh dari gerbang

"Hm, mana orang nya ga pergi-pergi lagi, dia malah diem disitu" intip iki dari semak-semak

"Ya udah yuk, mau ga mau kita lewat depan." Ajak ku lagi pada mereka berdua

Tak perlu kembali lewat sawah, dari gerbang belakang menuju gerbang depan hanya memotong jalan sempit saja 

Sesampainya kami di gerbang depan, terlihat tidak ada satupun orang didepan masjid

"Yes, ga ada orang nih." 

Intip kami diam-diam dibalik semak ilalang rumput liar yang tumbuh karena tak terawat

"Kita masuk satu-satu ya, pelan-pelan, jangan semuanya biar ga keliatan." Saran ku pada Iki dan Nafri

Karena aku yang membuat usul duluan, maka aku yang terlebih dahulu mengendap-endap cepat menuju depan wc supaya bisa bersembunyi dan pura-pura seperti ingin buang air

Lalu disusul Iki dan Nafri setelahnya

"Alhamdulillah.. sampe juga pondok." Ucap iki bersyukur telah sampai pondok dengan selamat

Tak seperti iki yang bersyukur karena telah sampai pondok, hatiku malah gelisah dan berkata lain

Firasat buruk

"Ya udah, satu-satu gantian kita keluar pura-pura abis dari kamar mandi ini, supaya ngga keliatan." 

Sesampainya kami di kamar, segera kami mengganti pakaian untuk pergi ke masjid 

***

Setelah kejadian kabur semalam, ku rasa semua baik-baik saja, karena nampaknya tidak ada yang mencurigai kami dikamar maupun dikelas

Tapi melanggar tetaplah melanggar, hati kami yang dihantui kegelisahan, setiap kali kami melihat bagian disiplin atau pengasuhan santri kami terkadang gugup

Masih di hari yang sama

Malam pun tiba, malam yang kami tunggu-tunggu, selesai shalat isya bagian penerangan akan mengumumkan hal-hal penting, seperti pemanggilan dari beberapa bagian OPP (Organisasi Pelajar Pesantren) bagi santri yang melanggar atau perkumpulan lain

OPP ini sendiri seperti OSIS yang dipimpin oleh kakak kelas tertinggi, kelas 6 (3 SMA)

Dimana mereka diamanahkan dan diberi tanggung jawab untuk memimpin santri pada bagiannya masing-masing

Contohnya ada beberapa bagian meliputi bagian keamanan, kesenian, perpustakaan, kantin dan masih banyak lagi

Di umumkan nya beberapa pengumuman, ada yang dipanggil bagian kebersihan, mungkin santri tersebut tidak malaksanakan piket, bagian bahasa, bagi santri yang melanggar bahasa dan disiplin bagi mereka yang terlambat masuk masjid atau melanggar disiplin lainnya

Kudengar dengan jelas satu persatu dari sekian banyak nama santri, tiba lah pemanggilan bagian keamanan

"Di harap hadir setelah shalat isya bagi santri yang disebutkan namanya ke bagian keamanan, mereka adalah..." 

Umumkan bagian penerangan jelas di atas mimbar di depan para santri

Semua mendengar dengan seksama

"Rajaf, santri kelas tiga.." 

Seketika santri yang duduk disekitar ku melihat kearah ku

"Ente kenapa raj?" Tanya teman sebelahku

Nafri dan iki yang melihat ku

Kenapa hanya aku yang disebutkan namanya?

Bersambung..

Posting Komentar